ahlul bait

“Every day is ‘Ashura and every land is Kerbala”

MAHABBAH

                                                                                  CINTA KEPADA ALLAH

(Oleh: Husain Kurani)

 

 

Allah Swt berfirman :

Katakanlah, “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.

 

Jelaslah, cinta kepada Allah Ta’ala menduduki tempat khusus dalam Islam dan nash-nash Islam telah menjelaskan ruang lingkup dan batasan cinta ini.

 

Oleh karena itu, merupakan keharusan bagi kita semua untuk berteduh di bawah naungan ayat mulia ini, yang menjelaskan bahwa cinta kepada Allah Ta’ala haruslah lebih besar dari kecintaan manusia terhadap: bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluarga, harta kekayaan, perniagaan, dan rumah. Jika merujuk pada pelbagai riwayat dan mencari penjelasan darinya seputar dimensi ayat ini, kita akan temukan bahwa kita hanya berhadapan dengan sebuah kesimpulan yang jelas; seorang mukmin hanya akan mencintai Allah Ta’ala, atau sesuatu yang diridhai Allah lantaran cinta-Nya, atau karena diperintahkan-Nya.

 

Dengan demikian, yang dicinta (al-Mahbùb) pada dasarnya hanya satu dan tidak ada al-Mahbùb selain-Nya. Dan kecintaan kepada-Nya bercabang pada kecintaan terhadap al-Musthafâ (Rasulullah) saww dan keluarga (Ahlul Bait)nya as. Seluruh fenomena kecintaan yang disyariatkan bersumber dari keridhaan Allah Ta’ala.

 

Imam Ja’far al-Shâdiq as berkata, “Hati adalah tempat suci Allah, maka janganlah engkau menempatkan (sesuatu) di tempat suci Allah, selain Allah.”

 

Tingkatan Para Pecinta (al-Muhibbin)

 

Seseorang bertanya kepada Amiril Mukminin (Imam Ali) as tentang tingkatan para pecinta. Imam berkat, “Tingkatan terendah mereka adalah orang yang menganggap kecil ketaatannya dan menganggap besar dosanya; dia beranggapan bahwa tidak ada di dalam dua rumah yang diambil selain-Nya.”  Orang tersebut kemudian pingsan. Setelah siuman, dia bertanya kembali, “Adakah derajat yang lebih tinggi dari itu?” Imam menjawab, “Ya, 70 derajat (peringkat).”

 

Dengan demikian, “alam” kecintaan kepada Allah adalah wilayah yang panjang dan lebar sisi-sisinya. Adalah salah jika kita beranggapan bahwa “alam” tersebut memiliki atap (batas). Kalaulah ada, maka hal itu hanyalah sebuah ungkapan yang dilontarkan dalam sebuah munajat yang tenang atau doa yang khusyuk.

 

Sesungguhnya, kecintaan memiliki beberapa kosa kata (mufradât) yang terkandung dalam ayat yang telah kita sebutkan di atas. Adakalanya, pemiliknya sampai pada suatu taraf di mana dia tidak memiliki pilihan (pasrah). Bahkan, terkadang sampai suatu taraf di mana pemiliknya rela mereguk “kebinasaan” di jalan cinta itu. Lalu, bagaimana dengan cinta kepada Allah Ta’ala yang harus menjadi satu-satunya cinta di hati makhluk, agar hanya memeluk Sang Kekasih (al-Habىb) yang ini saja (atas dasar kemurnian dan kebebasan tentunya)?

 

Begitulah, dapat kita pahami sabda Rasulullah al-Musthafâ dan Ahlul Baitnya yang suci as, yang mengungkap tentang cinta yang sangat kuat dan tak tertandingi. Inilah beberapa contoh di antaranya:

“Jika Kau masukkan aku ke dalam neraka, niscaya kukabarkan kepada para penghuninya bahwa sesungguhnya aku mencintai-Mu.” 

“Oh… seandainya aku, duhai Ilahi, Junjungan, Pelindung, dan Tuhanku! Sekiranya aku mampu bersabar menanggung siksa-Mu, mana mungkin kumampu bersabar terpisah dari-Mu? Dan seandainya aku mampu bersabar menahan panas api-Mu, mana mungkin aku bersabar tidak melihat kemuliaan-Mu?” 

“Butalah mata yang tak (dapat) melihat-Mu, mata yang senantiasa diawasi. Dan merugilah perdagangan seorang hamba yang tidak membuatnya cinta kepada-Mu, sebagai bagian dari keuntungannya.”

“Apa yang tertinggal setelah kehilangan-Mu, dan apa yang hilang setelah kehadiran-Mu?”

“Junjunganku, lantaran cinta pada-Mu, aku menjadi seorang yang lapar dan tak kenyang, dan disebabkan cinta pada-Mu, aku menjadi dahaga dan tak terpuaskan.”

 

Jika kita kaitkan pahaman konseptual kecintaan kepada Allah, sebagaimana disebutkan dalam al-Quran, dengan segi praksis yang terdapat dalam riwayat hidup al-Musthafa dan Ahlul Baitnya as, mungkin kita dapat mengetahui kadar diri kita dan keharusan untuk beramal dengan taraf yang lebih baik dalam hal ini.   

 

Benar, secara umum, sesungguhnya manusia tak mampu untuk mencapai derajat al-Musthafâ, pemimpin makhluk dan rasul paling utama, juga (derajat) keluarga beliau, Ahlul Bait al-Ma’shùm… Hanya saja, kita semua diperintahkan untuk mencapai peringkat hati yang sehat (al-qalbu al-salىm), yaitu hati yang dipenuhi cinta kepada Allah. 

 

Hati yang Sehat (al-Qalbu al-Salim)

 

Telah sampai kepada kita penjelasan dari mereka (para imam Ahlul Bait as—penerj.) segala hal yang berkait dengan hakikat hati yang sehat; satu-satunya hal yang bermanfaat pada hari kiamat. Imam Ja’far al-Shadiq as berkata, “Hati yang sehat adalah (hati) yang bertemu dengan Tuhannya dan tiada sesuatu selain-Nya di dalamnya. Setiap hati yang di dalamnya (terdapat) syirik atau keraguan (syak), ia akan terjatuh. Dan sesungguhnya mereka hendak meninggalkan kesenangan duniawi agar hati mereka menjadi kosong untuk akhirat.”

 

Jika seseorang di antara kita ingin mengetahui kedudukannya di sisi Allah Ta’ala, hendaknya dia melihat kedudukan Allah di hatinya; ini akan menyingkap nisbat keselamatan dalam hati tersebut.

 

Amirul Mukminin as berkata, “Barangsiapa ingin mengetahui bagaimana kedudukannya di sisi Allah, lihatlah bagaimana kedudukan Allah di sisinya. Sebab, sesungguhnya setiap orang bebas untuk memilih (di antara) dua perkara; dunia dan akhirat. Karena itu, pilihlah perkara akhirat atas dunia, (sebab) itulah yang dicintai Allah. Dan orang yang memilih perkara dunia, maka tiada kedudukan bagi Allah di sisinya.”

 

Jika belum cukup pertanda di atas, terdapat dua pertanda khusus, agar kita mengetahui kedudukan Allah di hati kita:

 

Pertama, Rasulullah saww bersabda, “Tanda cinta kepada Allah Ta’ala adalah mencintai zikir kepada Allah, dan tanda benci kepada Allah Ta’ala adalah membenci zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.”

 

Kedua, Amirul Mukminin as berkata, “Hati yang mencintai Allah adalah hati yang mencintai banyak berlelah-lelah untuk Allah, dan hati yang memalingkan perhatian dari Allah adalah hati yang mencintai kesenangan. Karena itu, wahai anak Adam, janganlah engkau menyangka bahwa engkau (dapat) mengetahui kedalaman sumur tanpa bersusah-payah. Sebab, sesungguhnya kebenaran (al-Haq) adalah sangat berat sekali.”

 

Jalan Menuju Cinta kepada Allah atau Hati yang Sehat

 

Jalan menuju cinta kepada Allah dimulai dari titik itu sendiri, yang diawali dengan meninggalkan cinta dunia.

 

Rasulullah saww bersabda, “Cinta dunia dan cinta Allah adalah dua hal yang tak dapat dipertemukan dalam satu hati untuk selamanya.”

Amirul Mukminin as berkata, “Bagaimana mungkin seseorang mengaku cinta kepada Allah, sementara di hatinya bersemayam cinta kepada dunia.”

 

Begitulah, kita dapat menyimpulkan—wa Allahu a’lam—bahwa cinta sempurna kepada Allah Ta’ala tidak akan berkumpul dengan cinta dunia dalam satu hati selamanya. Dengan kata lain, selama manusia merdeka dari tawanan cinta dunia, maka dia akan sukses bersama kenikmatan cinta kepada Allah Ta’ala. Namun, jika cinta dunia menetap dan bersemayam di hatinya, maka sesungguhnya dia sama sekali takkan mencicipi manisnya cinta kepada Allah Ta’ala. Mungkin hadis dari Amirul Mukminin as berikut ini akan mengukuhkan kesimpulan tersebut. Beliau as berkata, “Sebagaimana mentari dan malam hari takkan berkumpul, begitu pula cinta kepada Allah dan cinta dunia takkan pernah berkumpul.”

 

Benar, begitu malam menyingkir secara bertahap, mentari pun terbit dan menyempurnakan cahayanya. Begitu pula dengan cinta kepada Allah dan cinta dunia. Beliau as berkata, “Barangsiapa mencintai pertemuan (dengan) Allah, akan melupakan (sallâ) dunia.”

 

Kata sallâ (melupakan) takkan terwujud maknanya, kecuali bila secara bertahap ditambahkan hal-hal yang meliputinya di antara objek-objek yang mengacu pada proses penahapan secara alamiah ini.

 

Jika seseorang telah melupakan (membenci) dunia satu tingkatan saja dan (memperbanyak ingat akan kematian), maka secara bertahap (berikutnya), cinta Allah akan berlaku atas dirinya; dan inilah setinggi-tingginya kecintaan manusia kepada Allah.

Rasulullah saww bersabda, “Barangsiapa yang banyak mengingat kematian, Allah akan mencintanya.”

Isa as berkata, “Bencilah dunia oleh kalian, Allah akan mencintai kalian.”

 

Tentu saja, dunia yang diperintahkan agar kita membencinya adalah dunia yang haram, yang berkumpul bersama kemaksiatan-kemaksiatan. Adapun dunia yang halal, yang merupakan (sebuah) jalan menuju keridhaan Allah Ta’ala, maka kita diperintahkan agar memperhatikannya (engkau dikaruniai kehidupan agar taat dan tidak bermaksiat).

Jelaslah, jalan menuju cinta kepada Allah atau hati yang sehat (al-qalbu al-salىm) sangat panjang dan dipenuhi segala penyakit hati, juga hal-hal yang membahayakan. Oleh sebab itu, ia diibaratkan dengan jihâd al-akbar (jihad terbesar). Selain itu, ia bergantung pada: Pertama, pengetahuan akan kenyataan (ma’rifat al-wâqi’). Kedua, penyucian hati (tathhir al-qalbi).

 

Adapun yang pertama, karena kenyataan (wâqi’) itu lebih banyak ghaibnya ketimbang penyaksian (syahâdah)nya, maka dimensi penyaksian ini, bila dibandingkan dengan dimensi ghaib, sering tidak disebutkan (diabaikan). Satu-satunya perkara nyata dalam wujud ini adalah bahwa dia mengetahui hakikat ini, yakni dengan memberikan dunia kepada setiap yang berhak mendapatkannya dan memberikan akhirat kepada segala hal yang dia mampu. Dia menghindar dari dunia dan mengambil secukupnya (bagiannya) dari dunia ini. Inilah yang dimaksud (dengan) menjaga segala yang datang dari Allah untuk akhirat. Artinya, dia mengorbankannya di jalan Allah Ta’ala; memajukan dunia sebagaimana diinginkan Allah Swt dan melawan kezaliman serta menolong orang-orang lemah (mustadh’afin) dan orang-orang yang teraniaya. Sebab, ini merupakan bagian dari ibadah yang telah diperintahkan al-Haq ‘Azza wa Jalla.   

 

Inilah perkara nyata (kenyataan) satu-satunya…dan selainnya adalah hanyalah gambaran, kemungkinan, dan terbelakang.

 

Adapun yang kedua, penyucian hati, maka dapat kita katakan bahwa tiadanya penyucian dan pembersihan hati, akan menyebabkan tergelincir dan terjerembabnya manusia pada langkah-langkah menurun, menuju cinta dunia, rela pada dunia, dan merasa tenang dengannya.

 

Zubair, Khalid bin Ma’mar, dan Syabats bin Rabi’i, serta para pengikut mereka adalah sejelas-jelasnya contoh yang mengukuhkan fakta ini. Ya Allah, berilah kami sebaik-baiknya kesudahan…

 

Tidak akan jatuh seorang muslim ke dalam jurang keburukan akhir secara tiba-tiba dan tanpa pendahuluan. Akan tetapi, terdapat beberapa faktor yang saling mempengaruhi dalam hati dan jiwanya, sehingga berhadapan dengan malapetaka akhir ini. Faktor-faktor ini adalah penyakit-penyakit hati dalam dua hal: keyakinan dan akhlak. Selama hati kita tak memenangi pertempuran menerus dalam dua hal ini, tanpa keraguan, ia berada dalam ancaman akhir kesudahan yang buruk.

Kemudian, akibat orang-orang yang mengerjakan kejahatan adalah (azab) yang lebih buruk, karena mereka mendustakan ayat-ayat Allah dan selalu memperolok-oloknya.

 

Pengaruh-pengaruh Cinta kepada Allah

 

Jika kita berusaha meneliti pengaruh-pengaruh cinta kepada Allah atau hati yang sehat beserta kesimpulan-kesimpulannya, kita akan temukan bahwa semua itu terungkap dalam setiap area:

1.             Dalam memajukan (penghuni) alam. Jelaslah bahwa alam ini tidak boleh dihuni kecuali dengan keadilan. Dan keadilan tak mungkin terwujud kecuali setelah terbangunnya manusia secara sehat; dia mengimani keadilan dalam wujudnya dan menghuni alam untuk kemakmurannya serta membangun keadilan di lingkungannya. Tidak ada jalan lain menuju semua ini kecuali dengan Islam. Manusia akan tetap berada di dalam api kezaliman, selama tidak memahami hakikat ini. Karenanya, Tuhan ‘Azza wa Jalla memberitakan kepada kita:

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit…

2.             Dalam pemenuhan kebahagian individu dan masyarakat. Adakalanya, tak mudah bagi seseorang atau masyarakat untuk hidup di alam yang ditempati oleh sebuah keadilan. Karenanya, adakah sebuah jalan menuju kebahagiaan bagi semua itu? Tentu saja ada. Namun, itu bergantung kepada orang yang menggunakan segala yang diciptakan untuknya dan segala yang menjadi tanggung jawabnya. Dan dia tidak mungkin sampai pada hal itu, kecuali melalui jalan cinta kepada Allah dan hati yang sehat. Dengan cinta Allah dan hati yang sehat, terwujudlah kebahagiaan diri Anda. Yakni, jalan menuju upaya meringankan segala beban derita orang-orang yang berkekurangan, berlangsungnya kehidupan bersama (yang saling menjamin) untuk memecahkan kesulitan hidup menyendiri, upaya untuk menolong orang-orang yang teraniaya, serta jaminan kebahagiaan bagi mereka sedapat mungkin.

3.             Dalam menghadapi kezaliman dan melawan para thâgùth (penguasa). Seorang pecinta Allah Ta’ala tidak akan takut selain kepada Allah. Pemilik hati yang sehat tidak menemukan jalan untuk takut kepada para penguasa zalim (thâghùth). Dengan demikian, cinta kepada Allah Ta’ala saja yang membuat para pejuang yang keras kepada orang-orang kafir, saling mengasihi dan menyayangi di antara mereka (kaum muslimin). Ya, gunung boleh hancur, tetapi mereka tetap akan eksis, lantaran mereka adalah orang-orang yang pandai dan cerdik (ahli bashâir). Merekalah orang-orang yang rindu bertemu dengan Allah, pencari jalan yang akan menyampaikannya kepada-Nya, walaupun di antara mereka harus berhadapan dengan tombak dan pedang, timah panas, dan suara teriakan di parit perlindungan. Pengalaman Revolusi Islam di Iran dan gemanya di Libanon, Palestina, dan Afghanistan adalah bukti yang cukup untuk itu.

4.             Pencapaian akan kebahagiaan nan abadi di sisi Pemilik Kekuasaan dan di dalam surga yang sudah disiapkan bagi orang-orang yang bertakwa dan beruntung dengan ridha dari Allah, adalah keberuntungan yang mahaagung.     

 

Waspadalah terhadap Islam yang Telah Dipalsukan

 

Bagaimanapun, harus disebutkan tentang adanya penyelewengan atas Islam yang dilakukan oleh tangan-tangan para penguasa arogan (thâghùth) dan para orientalis. Dan yang paling berbahaya dari bentuk-bentuk penyelewengan itu, secara umum, ada dua macam: Pertama, pemisahan Islam dari politik. Kedua, pemisahan Islam dari akhlak.

Tidak diragukan lagi, peran teman-teman yang bodoh—seperti yang diibaratkan al-imam al-qâid ridwanallâh Taala alaihi (Imam Khomeini)—dalam hal ini merupakan serangan terbesar yang dilancarkan musuh (Islam) dibandingkan dengan peran musuh secara langsung.

 

Sesungguhnya, pemisahan dan pengasingan agama dari politik adalah proyek agar setiap orang mengisolasi diri dan tidak memikirkan permasalahan masyarakat serta mencurahkan perhatiannya pada apa yang digambarkannya sebagai menjamin dirinya sendiri masuk surga. Inilah jenis penyelewengan paling berbahaya dan setiap orang harus waspada terhadapnya.

Mungkin, yang sama berbahaya dari itu adalah pemahaman bahwa Islam hanyalah sebuah undang-undang untuk dunia ini. Padahal, tujuan Islam yang sesungguhnya adalah keserasian antara dunia dengan akhirat. Karena itu, adalah sebuah kesalahan besar mengalihkan seluruh perhatian kepada aturan (undang-undang) duniawi dengan memisahkannya dari akhirat; dan mengabaikan bidang akhlak atau memberikan gambaran yang buruk tentangnya. Mungkinkah melaksanakan undang-undang Islam untuk dunia ini dengan memisahkannya dari akhlak? Bagaimana pandangan Anda?

 

Sesungguhnya, tujuan diutusnya al-Musthafâ saww adalah untuk menyempurnakan kemuliaan-kemuliaan akhlak (makârim al-akhlâq). Dengan demikian, mengabaikan akhlak adalah sama dengan mengabaikan Risalah al-Musthafâ. Dan ini asing bagi seluruh tujuan risalah.

 

Orang-orang kafir telah mengirimkan serangan ini ke rumah-rumah kaum muslimin sampai pada taraf penyelewengan yang paling berbahaya dari keduanya… Tiba-tiba, kita mendapati diri kita berada di tengah pengucilan (isolasi) yang melumpuhkan atau di antara kekayaan dunia Islam yang hatinya tidak mewajibkan penjagaan, pembersihan, dan penyucian, kecuali orang-orang yang telah dijaga Allah.

Telah bertahun-tahun lamanya urusan Islam dipisahkan dari persoalan keakhiratan dan upaya membangun jiwa. Atau, hanya menghasilkan metode yang rendah dalam memahami Islam dan hanya judul umumnya saja. Wajah Islam yang tampak adalah sebagai berikut:

1.             Lenyapnya segala yang serasi dengan ruh zaman dari nash-nash Islam.

2.             Asingnya kezuhudan dan ‘irfân al-salىm (spiritual yang sehat—penerj.), atau hadirnya keduanya secara teoritis saja.

3.             Pemahaman yang salah atas akal dan hanya memberikan nilai penting pada sisi ini (akal) serta jauh dari ruh. Padahal, dengan hati dan akal yang sehat al-Rahmân (Allah Swt) dapat diketahui dan dengannya diperoleh surga-surga (penuh kenikmatan).

4.             Bangkitnya pribadi yang mencintai Islam, tetapi tidak mencintai Allah. Dengan kata lain, memperbaharui Islam tetapi tidak bermaksud menjaga dan menyucikan hati, agar menjadi tempat suci Allah dan tak ditempati selain-Nya.

 

Revolusi Islam

 

Kemenangan Revolusi Islam di Iran berasal dari Allah Ta’ala. Pemimpinnya adalah seorang yang zuhud dan âlim kepada Allah dan Islam, bukan hanya Islam saja. Beliau telah menyiapkan teman sejati yang suci di antara murid-muridnya yang telah ditolong dan dijaga Allah Ta’ala. Beliau memulai perhatiannya pada segi akhlak milik Islam dan mengembalikannya ke depan.

 

Menurut hemat kami, yang paling agung dari pencapaian hakikat kemenangan Revolusi Islam adalah pencapaian hakikat ini. Sebab, umat sudah saling berhubungan dengan akidahnya yang sehat dan sejarahnya yang cemerlang, juga riwayat hidup nabi kita al-Musthafâ serta sunahnya saww.

 

Di sinilah nilai penting garis (khath) Imam Khomeini qs, yang menyergap Iblis, setan-setan bumi, dan para thâghùt (penguasa zalim), sehingga segala bisikan jahat mereka menjadi lenyap.

 

 

    

 

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: